Zaman Megalithikum

07.32 |



Zaman Megalithikum

Zaman Megalitikum biasa disebut dengan zaman batu besar, karena pada zaman ini manusia sudah dapat membuat dan meningkatkan kebudayaan yang terbuat danbatu-batu besar. Megalitikum sendiri berasal dari kata bahasa Yunani, Megalitik, dimana kata mega berarti besar, dan lithos berarti batu. Pada saat itu kehidupan masih bersifat primitif, sehingga mereka hanya bisa menggunakan alat-alat yang terbuat dari batu yang masih kasar. Hasil kebudayaan pada zaman Megalitikum dapat dijumpai dalam berbagai bentuk bangunan dan peralatan yang terbuat dari batu-batu yang besar. Adapun hasil kebudayaan zaman ini, antara lain
1. Kapak persegi maupun kapak lonjong
2. Menhir (batu tempat pemujaan arwah leluhur)
3. Dolmen

Dolmen (22.57 WIB
4. Kubur batu
5. Waruga
6. Sarkofagus
7. Punden Berundak.
Punden berundak merupakan contoh struktur buatan manusia pada zaman Megalitikum yang tersisa di Indonesia. Beberapa dari struktur tersebut bertanggal lebih dari 2000 tahun yang lalu. Punden berundak bukan merupakan bangunan, tetapi lebih merupakan pengubahan bentang-lahan atau undak-undakan yang memotong lereng bukit, seperti tangga raksasa. Bahan utamanya tanah, bahan pembantunya batu; menghadap ke anak tangga tegak, lorong melapisi jalan setapak, tangga, dan monolit tegak.
Kebudayaan ini berkembang dari zaman Neolitikum sampai zaman Perunggu. Pada zaman ini manusia sudah mengenal kepercayaan. Walaupun kepercayaan mereka masih dalam tingkat awal, yaitu kepercayaan terhadap roh nenek moyang. Kepercayaan ini muncul karena pengetahuan manusia sudah mulai meningkat. Di Indonesia sendiri kebudayaan megalitikum masih menjadi bagian dan dipertahankan hingga sekarang. Setiap bangunan yang berkembang tentunya memiliki fungsi dan menyesuaikan dengan keadaan yang ada di sekitarnya. Tidak jarang bangunan megalitikum menjadi bagian dari unsur-unsur mistis di dalamnya. Kuburan batu dari para Raja-Raja Sumba merupakan salah satu bentuk unsur megalitikum yang dapat ditemukan di Sumba. Selain itu ada meja batu yang besar untuk pertemuan adat. Budaya Marapu menjadi salah satu penghias sendiri di tanah Sumba, namun budaya Marapu sudah mulai tergeser dengan modernitas.
Source:


Zaman Neolithikum

Zaman batu muda diperkirakan berlangsung kira-kira tahun 2000 SM. Perkembangan kebudayaan pada zaman ini sudah sangat maju. Dalam zaman ini, alat yang dihasilkan sudah bagus. Meskipun masih terbuat dari batu, tetapi pada semua bagiannya telah dihaluskan dan persebarannya telah merata di seluruh Indonesia. Menurut Dr. R. Soekmono, Kebudayaan ini lah yang menjadi dasar kebudayaan Indonesia sekarang. Dalam zaman ini, terjadi perubahan pola hidup masyarakat, dari tradisi food gatering ke food producing. Manusia yang hidup pada zaman ini adalah bangsa Proto Melayu. Seperti suku Nias, suku Toraja, suku Sasak dan Suku Dayak.
Peralatan yang dihasilkan zaman batu muda, antara lain :
  • Kapak lonjong

Kapak lonjong (22.42 WIB)
Kapak dengan penampang berbentuk lonjong atau bulat telur. Kapak lonjong terbuat dari batu kali yang berwarna kehitaman. Persebarannya melalui jalur timur, yaitu Jepang, Formosa, Filipina, Minahasa, Maluku, dan Papua. Dua bentuk kapak lonjong Yaitu kapak besar (Walzanbeil) dan kapak kecil (kleinbeil).
  • Kapak persegi

Kapak Persegi (22.43 WIB)
Kapak dengan penampang lintangnya berbentuk persegi  panjang atau trapesium. Kapak persegi terdiri atas berbagi ukuran, basar (beliung atau pacul), dan kecil (tarah). Persebarannya melalui jalur barat yaitu dari tenggara semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku.
Benda-benda lain yang dihasilkan dari zaman batu muda, Antara lain  :
  • Tembikar
Banyak ditemukan pada lapisan KJokkenmoddiger di Sumatra dan pantai Selatan Jawa. Periuk belaga yang berisi tulang-tulang manusia banyak di temukan di Sumbawa.
  • Pakaian
Tembikar yang bermotif tenunan membuktikan bahwa masyarakat prasejarah sudah mengenal pakaian ini terbut dari kulit kayu.
  • Perhiasan
Bahan baku yang di gunakan adalah Kalsedon dan batu indah, berwujud gelang, kalung, dan anting
Peninggalan kebudayaan zaman neolitikum ditemukan hampir di seluruh Kepulauan Nusantara. Menurut R. Soekmono, kebudayaan Neolitikum inilah yang menjadi dasar kebudayaan Indonesia sekarang. Corak kehidupan:
  • Manusia telah mempunyai tempat untuk menetap (sedenter). Diperkirakan mereka bertempat tinggal menetap di desa-desa kecil dalam komunitas petani.-
  • Pertanian dengan bersawah/pengairan, juga sudah mulai beternak (food producing).
  • Sudah mengenal organisasi masyarakat dengan kepemimpinan yang ditaati oleh warganya.
  • Telah mengenal kepercayaan yang saat itu masih berupa animisme dan dinamisme. Alat-alat yang digunakan: 1) Kapak persegi/beliung persegi, adalah kapak yang penampang lintangnya berbentuk persegi panjang atau trapesium. Sebutan kapak persegi diberikan oleh Von Heine Geldern. Untuk ukuran yang besar, beliung ini difungsikan sebagai cangkul dan keberadaannya banyak ditemukan diJawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara. 2) Kapak bahu, yaitu sejenis kapak persegi namun pada tangkai diberi “leher” sehingga menyerupai bentuk botol persegi. Menurut pencariannya, kapak jenis ini hanya ditemukan didaerah Minahasa, Sulawesi Utara. Di luar Indonesia ditemukan di Jepang, Formosa, Filipina, kebarat sampai Sungai Gangga, bagian tengah di Malaysia Barat. 3) Kapak lonjong, adalah kapak dengan penampang berbentuk lonjong atau bulat telor. Banyak ditemukan di Maluku, Irian, Sulawesi Utara. 4) Mata panah, yang digunakan untuk berburu, banyak ditemukan di Papua. 5) Gerabah dari tanah liat, ditemukan di pantai selatan Pulau Jawa (antara Yogyakarta-Pacitan), Kaliumpang (Sulawesi), Melolo (Sumba). 6) Alat pemukul kayu, ditemukan di Kalimantan Selatan. 7) Pahat Neolitik, berfungsi sebagai alat memahat kayu yang bahannya terbuat dari batu dengan jenis Rijang, dan pembuatan bentuk ini dengan teknis mengasah/mengupam. 8) Perhiasan, jenis perhiasan dari zaman ini antara lain berwujud gelang, kalung, anting-antingyang bahan bakunya adalah batu indah dan kaseledon. 9) Tembikar, pecahan-pecahan kebudayaan ini di temukan pada lapisan atas kjokkenmoddinger di Sumatera, bukit pasir pantai selatan Jawa. Tembikar ini mepunyai hiasan motif tenun. 10) Pakaian, hiasan tembikar yang bermotif tenunan membuktikan bahwa masyarakat prasejarah sudah mengenal pakaian. Diperkirakan pakaian ini dibuat dari kulit kayu. Hal ini dibuktikan dengan penemuan alat pemukul kayu yang biasa digunakan untuk memukul kulit kayu. Dari kulit kayu ini dihasilkan serat-serat yang kemudian ditenun. Alat yang digunakan memang masih dari batu, tetapi berbeda dengan masa paleolitikum, batu-batu ini sudah diasah/halus. Peralatan yang menonjol dari zaman ini adalah kapak persegi dan kapak lonjong. Kapak persegi menyebar ke Indonesia melalui jalur barat, sedangkan kapak lonjong melalui jalur timur. Kapak lonjong sendiri memiliki dua ukuran, yaitu walzeinbeil (untuk ukuran besar) dan kleinbeil (untuk ukuran kecil) yang umumnya digunakan sebagai bendawasiat.

Zaman Mesolithikum

Setelah pleistosen berganti dengan holosen, kebudayaan paleolithikum tidak begitu saja lenyap melainkan mengalami perkembangan selanjutnya. Di Indonesia, kebudayaan paleolithikum itu mendapat pengaruh baru dengan mengalirnya arus kebudayaan baru dari daratan Asia ygna membawa coraknya sendiri. Kebudayaan baru yang timbul itu dinamakan Mesolithikum. Kebudayaan mesolithikum ini banyak ditemukan bekas-bekasnya di Sumatra, Jawa , Kalimantan, Sulawesi dan di Flores. Peradaban ini dikenal sebagai abris sous roce. Kjokken modinger (peninggalan sampah dapur sebagai ciri utama kehidupan pada masa itu.
Ciri-ciri kehidupan manusia zaman Mesolithikum, antara lain:
1.      Berkelompok 10-15 orang.
2.      Berburu dan mengumpulkan makanan.
3.      Semi nomaden, bertempat tinggal di tepi pantai dan di goa-goa.
4.      Sudah ada pembagian kerja.

Kebudayaan Bacson-Hoabinh kebudayaan ini ditemukan dalam gua-gua dan dalam bukit-bukit kerang di Indo China, Siam, Malaka, dan Sumatera Timur. Alat-alat kebudayaannya terbuat dari batu kali, seperti bahewa batu giling. Pada kebudayaan ini perhatian terhadap orang meninggal dikubur di gua dan juga di bukit-bukit kerang. Beberapa manyatnya diposisikan dengan berjongkok dan diberi cat warna merah. Pemberian cat warna merah bertujuan agar dapat mengembalikan hayat kepada mereka yang masih hidup.

Bahewa Batu Giling/Kubur Batu (21.48 WIB)
Di Indonesia, kebudayaan ini ditemukan di bukit-bukit kerang. Hal seperti ini banyak ditemukan dari Medan sampai ke pedalaman Aceh. Bukit-bukit itu telah bergeser sejauh 5 km dari garis pantai menunjukkan bahwa dulu pernah terjadi pengangkatan lapisan-lapisan bumi.
Alur masuknya kebudayaan ini sampai ke Sumatera melewati Malaka. Di Indonesia ada dua kebudayaan Bacson-Hoabinh, yakni:
  1. Kebudayaan pebble dan alat-alat dari tulang yng datang ke Indonesia melalui jalur barat.
  2. Kebudayaan flakes yang datang ke Indonesia melalui jalur timur.
Kebudayaan Toale dan yang serumpun dengan itu disebut juga kebudayaan flake dan blade. Alat-alatnya terbuat dari batu-batu yang menyerupai batu api dari eropa, seperti chalcedon, jaspis, obsidian dan kapur membantu. Perlakuan terhadap orang yang meninggal dikuburkan didalam gua dan bila tulang belulangnya telah mengering akan diberikan kepada keluarganya sebagai kenang-kenangan. Biasanya kaum perempuan akan menjadikan tulang belulang tersebut sebagai kalung.

Selain itu, didalam gua terdapat lukisan mengenai perburuan babi dan juga rentangan lima jari yang dilumuri cat merah yang disebut dengan “silhouette”. Arti warna merah tanda berkabung. Kebudayaan ini ditemukan di Jawa (Bandung, Besuki, dan Tuban), Sumatera (danau Kerinci dan  Jambi), Nusa Tenggara di pulau Flores dan Timor.
Kebudayaan Tulang di Sampung, kebudayaan ini pertama kali ditemukan di goa dekat Sampung, Ponorogo, Jawa Timur. Goa ini mempunyai lapisan kebudayaan yang tebalnya kuarng 3 m. Lapisan atas menghasilkan barang dari logam dan beberapa kapak neolithis. Sedangkan lapisan selanjutnya menghasilkan barang-barang yang terbuat dari tulang dan tanduk, berupa jarum, pisau, dan dua macam sudip.

Kapak Neolithic (21.54 WIB)
Ditemukan beberapa rangka manusia yang letaknya berbaring pada sisi dengan kedua tangan berlipat menutupi muka dan kedua kakinya terlipat ke atas. Rangka ini ditutupi oleh sebulat atau beberapa buah balok batu goa untuk menjaga mayat-mayatnya tidak dicuri binatang buas dan arwahnya tidak meninggalkan jasadnya.

Zaman Paleolithikum

Zaman paleolitikum. Zaman ini disebut pula Zaman Batu Tua , yaitu masa kehidupan berburu dan meramu. Masa ini berlangsung sejak 2 juta tahun lalu sampai 10.000 tahun yang lalu. Kehidupan manusia pada masa itu bersifat evolutif, yaitu perubahan yang sangat pelan.
Kebudayaan paleolitikum pertama kali ditemukan di Jawa oleh Ralph Von Koenigswald dan M.W.F. Tweedie pada tahun 1935. Kebudayaan paleolitikum dikenal juga dengan kebudayaan Pacitan, karena peralatan yang ada banyak ditemukan di daerah Pacitan.
Corak Kehidupan:
  • Pada masa ini manusia purba hidup dengan cara nomaden yaitu berpindah-pindah dari satutempat ke tempat yang lain.
  • Tergantung pada alam. Mereka mencari binatang buruan dan meramu artinya mencari danmengumpulkan makanan dari alam bebas (food gathering). Di samping berburu binatang darat,manusia juga mulai menangkap ikan. Dengan akalnya manusia mampu menciptakan alat-alatseperti tuba untuk memabukkan ikan, membuat kail untuk meperoleh ikan-ikan kecil, danmemakai tombak untuk ikan yang besar.
  • Apabila binatang buruan atau bahan makanan di sekitarnya telah menipis, mereka segeramencari tempat baru yang masih banyak menyimpan makanan.
  • Mereka hidup secara berkelompok dalam jumlah kecil.Alat-alat yang digunakan:1) Batu inti, yaitu kapak perimbas (chopper), kapak penetak, kapak genggam (pebble) yang berguna untuk memotong pohon, merimbas kayu, memotong tulang, dan menguliti binatang. Kebanyakan dari alat-alat saksi budaya ini ditemukan di Pacitan-Jawa Timur. 2) Alat serpih (flakes), yaitu merupakan pecahan dari batu inti/induj (kalsedon) yang berguna untuk gurdi mata panah, mengiris daging atau memotong umbi-umbian dan buah-buahan ataupun peraut pisau. Salah satunya adalah Serut, yang proses pembuatannya berasal dari serpihan bongkahan-bongkahan batu rijang, atau sisa pembuatan alat-alat lain dengan fungsi sebagi alat pemotong atau penyayat daging. 3) Alat tulang dan tanduk, yang digunakan sebagai ujung tombak, menggali ubi-ubian, juga berburu. Kebanyakan dari alat-alat ini ditemukan di Ngandong. Alat yang digunakan sebagai alat bantu untuk berburu dan meramu masih sederhana (masih kasar).
Manusia yang hidup pada masa ini, yaitu:
  • Meganthropus Paleojavanicus
  • Pithecanthropus Erectus
  • Pithecanthropus Mojokertensis
  • Homo Wajakenis
  • Homo Soloensis.

Meganthropus Paleojavanicus (21.10 WIB)

Pithecanthropus Erectus (20.15 WIB)





0 komentar:

Poskan Komentar

Cari Artikel Blog

Memuat...